Diriku

Diriku

Sabtu, 14 Mei 2011

CINTA ITU SALAH


Kata orang, merasakan manisnya hati itu tidak salah.
Kata orang, melihat titisan Adam itu tidak salah.
Tapi mengapa aku merasa bersalah.
Ketika melihat titisan Adam yang baru saja menduduki tahta dihatiku.
Aku belajar untuk menjadi peri.
Tapi orang bilang,
“Jangan berharap jadi bidadari yang cantik.”
Dan pada suatu waktu.
Kubekukan kalbuku sekeras – kerasnya untuk Adam.
Tidak semua Adam yang kuberi kalbu.
Walaupun kata titisan Hawa dia bagai malaikat yang turun ke Bumi untuknya.
Bahkan kau tau?
Saat itu kalbuku seakan berada di dalam batu karang yang kokoh bagaikan intan.

Hingga pada suatu ketika.
Aku melihat Adam yang seakan – akan adalah malaikat untukku.
Aku tidak menyangka akan adanya cerita indah ini di hidupku.
Tuhan telah mengirimkan aku masuk ke kubangan surga.
Kutundukkan hatiku serendah – rendahnya.
Kujaga keinginanku untuk menyentuhnya.
Namun, ketika aku belajar menjadi bidadari,
Aku seakan – akan terperangkap di lembah neraka.
Aku tersiksa, sendirian, tak ada yang mendengar aku menangis dan berteriak.
Semakin kuinginkan malaikatku datang, semakin banyak iblis yang menarikku untuk tenggelam di lembah neraka.

Pada akhirnya aku berpikir.
Walaupun aku berteriak sambil menangis meraung – raung,
Meminta tolong untuk kembali hidup di surga,
Berusaha untuk berada di samping malaikatku,
Namun tidak akan ada yang mau mendengar hatiku.
Tidak akan ada yang mau mengulurkan tangannya untukku.
Pada akhirnya aku simpan hati ini baik – baik.
Walaupun sudah luka dan berkeping - keping.
Yang isinya adalah “Ketika kubilang cinta, kutepati cinta itu.”

Selasa, 10 Mei 2011

SIFAT-SIFAT KOLOID


Tujuan :
Untuk mengetahui beberapa sifat-sifat yang dimiliki oleh zat koloid.

Alat dan Bahan :

·         Gelas kimia.
·         Lampu Spiritus.
·         Korek api.
·         Gunting penjepit.







·         Senter.
·         Gunting biasa.
·         Sendok.
·         Koloid santan.
·         Susu bubuk.
·         Air murni.

·         Jeruk nipis.




·         Larutan elektrolit.


Langkah keja :
Efek Tyndall.
·         Campurkan susu dengan air murni di dalam gelas kimia. Lalu aduk hingga rata.

Susu

·         Dari arah horizontal, sorotkan cahaya dari lampu senter yang sudah dinyalakan.
·         Amati apa yang terjadi dengan perlakuan tersebut.

Ketika susu disorot dengan senter.

Koagulasi
·         Campurkan santan kental dengan air (secukupnya/tidak terlalu encer) di dalam gelas kimia. Lalu aduk hingga rata.
·         Masukkan ke dalam tiga gelas kimia masing – masing sebanyak 60 ml.

Dengan asam (jeruk nipis).
·         Belah jeruk nipis menjadi dua bagian menggunakan gunting agar tidak banyak mengeluarkan sarinya.
·         Peras jeruk nipis di atas gelas berisi santan pada salah satu gelas (tandai gelas agar tidak tertukar).
·         Biarkan sari (air) yang ada di dalam jeruk nipis masuk dan bercampur ke dalam koloid santan, namun biji dan bulirnya diusahakan tidak masuk ke dalam koloid santan.
·         Tunggu beberapa menit kemudian untuk melihat apa yang terjadi ketika asam (sari jeruk nipis) dengan koloid santan dicampurkan.

Koloid santan dicampur dengan sari jeruk nipis

Dengan larutan elektrolit.
  • Tuang larutan elektrolit ke dalam gelas kimia yang berisi koloid santan sebanyak 20 ml.
  • Tunggu beberapa menit kemudian untuk melihat apa yang terjadi ketika larutan elektrolit dan koloid asam dicampurkan.

Koloid santan dicampur dengan larutan elektrolit

Dengan pendidihan.
  • Nyalakan lampu spiritus dengan menggunakan korek api. Biarkan beberapa saat hingga sebagian besar apinya berwarna biru.
  • Jepit gelas kimia yang berisi koloid santan dengan menggunakan gunting penjepit. Jepit pada bagian bawah mulut gelas.
  • Letakkan gelas kimia berisi koloid santan yang udah dijepit dengan gunting penjepit tersebut diatas api spiritus.
  • Panaskan koloid santan hingga mendidih dan mengalami perubahan.

Koloid santan didihkan dengan spiritus

Kesimpulan data :
  1. Pada percobaan efek Tyndall, cahaya yang diarahkan ke larutan koloid susu berkasnya berhamburan sehingga jejak cahaya dapat dilihat.
  2. Pada percobaan koagulasi, ada ketiga percobaan membentuk endapan setelah masing – masing gelas kimia yang berisi koloid santan dimasukkan asam, larutan elektrolit, dan dididihkan.


Terjadi koagulasi (dari kiri – kanan : dididihkan, dicampur larutan elektrolit, dicampur sari jeruk nipis)

Bukti terjadinya koagulasi (ketika dibalik ada gumpalan didasar sehingga tidak tumpah)


Kesimpulan umum :
Koloid memiliki sifat – sifat seperti efek Tyndall (pembauran cahaya) dan koagulasi (penggumpalan) dengan cara penambahan zat eletrolit, pendidihan, dan penambahan asam.

Rabu, 20 April 2011

NGGAK BIASA

Coba liatin baek-baek deh. Di daerah kapasnya kayak ada bercak darahnya. Biasanya, bercak darah tu nggak ada. Waktu awal-awal disuntik, rasanya biasa aja. beberapa menit kemudian, rasanya gatal, dan panas seperti terbakar.

Waktu dibuka, ternyata bercak darahnya udah selebar gitu. Biasanya, cuma setitik aja. Ada 2 kemungkinan :
  1. Susternya salah tusuk. (sadis banget).
  2. Darah aku yang kelewat encer.
 Liat tu, bekasnya. Nggak biasanya kayak gitu. Dipegang tambah gatal dan tambah panas lagi. Jadinya ya dicuekin aja.

Tengok nih, padahal tangan aku mulus-mulus aja kan. Bisa dibikin kayak gitu.

Minggu, 03 April 2011

PERCOBAAN RESPIRASI

Tujuan :
1.      Mempelajari pernapasan hewan.
2.      Melihat faktor – faktor yang mempengaruhi jumlah kebutuhan O2 (oksigen) saat bernapas.

Alat dan Bahan :
1.      Pipet tetes 1 buah > membantu memasukkan eosin ke dalam pipa kapiler.
2.      Neraca > menimbang berat serangga / tumbuhan yang akan diamati.
3.      Kapas > membungkus KOH agar tidak terkena jaringan serangga / tumbuhan.
4.      Respirometer > mengukur penggunaan O2 (oksigen) oleh serangga / tumbuhan.
5.      Eosin > memudahkan dalam pembacaan skala pada respirometer karena berwarna merah.
6.      Vaselin > menutup celah pada respirometer agar udara dari luar tidak masuk.
7.      KOH (Kalium Hidroksida)  > mengikat CO2 (karbon dioksida) agar tidak bercampur dengan O2 (oksigen).
8.      Hewan serangga yang beratnya lebih dari 1 gram 4 ekor (menggunakan jangkrik) > objek yang akan dihitung kebutuhan O2 (oksigen) – nya.
9.      Tumbuhan yang baru bertunas (menggunakan kecambah kacang hijau berumur 2 hari) > objek yang akan dihitung kebutuhan O2 (oksigen) – nya.
10.  Stopwatch.

Cara Kerja :
1.      Pertama, lepaskan pipa kapiler dan wadahnya (bagian dari respirometer). Olesi ujung pipa kapiler yang besar dengan vaselin hingga rata dan sedikit tebal.
2.      Kedua, bungkus KOH (Kalium Hidroksida) dengan kapas hingga rapat dan rapi. Usahakan mengambil KOH (Kalium Hidroksida) dengan bantuan sendok kimia / spatula. Masukkan ke dalam wadah dan letakkan pada dasar wadah.
3.      Timbang jangkrik yang akan diamati. Jika berat seekor jangkrik tidak memenuhi 1 gram, maka dapat digunakan 2 ekor jangkrik. Catat beratnya. Lakukan hal yang sama pada jangkrik yang berbeda dan pisahkan dari jangkrik yang ditimbang pertama kali.
4.      Masukkan jangkrik ke dalam wadah yang sudah berisi kapas yang membungkus KOH (Kalium Hidroksida). Tutup dengan pipa kapiler yang sudah diolesi vaselin. Letakkan pada tempatnya.
5.      Tutup lubang pada pipa kapiler yang kecil dengan menggunakan jari tangan selama 2 menit tepat. Sementara menunggu 2 menit, anggota yang lain mengambil eosin dengan menggunakan pipet tetes.
6.      Setelah 2 menit, lubang pada pipa kapiler sudah boleh dibuka. Masukkan eosin ke dalam pipa kapiler melalui mulut tabung yang kecil dengan menggunakan pipet tetes sekitar 2 – 5 milimeter.
7.      Catatlah berapa garis yang dilewati eosin selama 5, 10, sampai 15 menit. Gunakan stopwatch untuk membantu dalam menghitung waktu. Jika langkah – langkah yang dilakukan sudah benar, maka eosin dapat berjalan dengan lancar.
8.      Lakukan hal yang sama pada percobaan jangkrik bagian 2 dan kecambah bagian 1 dan 2.
9.      Pada kecambah, bagian yang berwarna hijau harus dibuang. Tujuannya agar CO2 (Karbon dioksida) yang terbentuk tidak diubah menjadi O2 (oksigen) oleh bagian yang hijau pada kecambah.

Hasil Pengamatan :
Objek Penelitian
Garis yang dilewati dalam jangka ..... menit
Jumlah
5 menit
10 menit
15 menit
Jangkrik bagian 1 (0,7 gram)
6 garis
5 garis
5 garis
1,52 menit/gram
Jangkrik bagian 2 (1,1 gram)
6 garis
10 garis
11 garis
1,63 menit/gram
Kecambah bagian 1 (0,2 gram)
21 garis
17 garis
8 garis
15,33 menit/gram
Kecambah bagian 2 (0,7 gram)
29 garis
10 garis
7 garis
4,38 menit/gram



Objek penelitian
Gambar
5 menit
5 - 10 menit
10 - 15 menit
Jangkrik bagian 1 (0,7 gram)





Jangkrik bagian 2 (1,1 gram)
Kecambah bagian 1 (0,2 gram)
Kecambah bagian 2 (0,7 gram)
Keterangan : tanda O merah memberikan petunjuk dimana eosin berada.
Kesimpulan data :
1.      Pada praktikum, terdapat varietas bebas, varietas terikat, varietas pengganggu, dan varietas kontrol.
a.       Varietas bebas = objek yang memiliki berat dan ukuran yang berbeda – beda.
Contohnya : Jangkrik atau kecambah yang memiliki berat dan ukuran yang berbeda – beda.
b.      Varietas terikat = hasil dari rata – rata O2 (oksigen) yang digunakan per menit dibagi berat objek.
Contohnya : hasil bagi dari rata – rata O2 (oksigen) yang digunakan per menit dengan berat jangkrik atau kecambah. O2 (oksigen) yang digunakan dapat dihitung dengan menghitung berapa garis yang telah dilewati oleh eosin.
c.       Varietas pengganggu = sesuatu yang dapat mengganggu proses praktikum sehingga hasil akhir menjadi tidak benar.
Contohnya : Air, vaselin yang kurang (tidak dapat menutupi celah pada sambungan pipa kapiler dan wadahnya), suhu, dan klorofil yang masih menempel (pada kecambah).
d.      Varietas kontrol = semua perangkat yang diperlakukan dengan cara yang sama.
Contohnya : jangkrik 1, jangkrik 2, kecambah 1, dan kecambah 2 diperlakukan dengan prosedur yang sama. (pengecualian untuk kecambah : harus dibuang bagian hijaunya).
2.      Eosin bergerak ke arah dalam, sehingga menunjukkan berapa banyak O2 (oksigen) yang digunakan oleh jangkrik / kecambah.
3.      Jangkrik yang aktif bergerak akan mengakibatkan eosin bergerak ke arah dalam dengan cepat.
4.      Jangrik yang memiliki berat lebih besar (1,1 gram) membutuhkan banyak O2 (oksigen) daripada jangkrik yang memiliki berat lebih kecil (0,7 gram).
5.      Kecambah yang memiliki berat lebih besar (0,7 gram) membutuhkan banyak O2 (oksigen) daripada kecambah yang memiliki berat lebih kecil (0,2 gram).



Kesimpulan umum:
1.      Kebutuhan O2 (oksigen) berdasarkan pada aktivitas yang terjadi (pada percobaan jangkrik), proses pertumbuhan pada tanaman (pada percobaan kecambah), dan berat pada masing – masing objek.
2.      Varietas pengganggu menyebabkan kesalahan pada data yang sebenarnya.

Aplikasi dalam Kehidupan Sehari – Hari :
1.      Jika seseorang atau beberapa orang berada di sebuah ruangan tertutup (tanpa sirkulasi udara), maka lama – kelamaan orang tersebut akan merasa kepanasan dan sesak napas karena O2 (oksigen) yang ada di ruangan tersebut lama – kelamaan akan habis dan tidak ada yang dalap menggantikan O2 (oksigen) di dalam ruangan tersebut. Orang – orang yang ada di dalam ruangan tersebut akan pingsan karena menghirup CO2 (Karbon Dioksida).
2.      Gas yang ada di dalam tabung berisi O2 (oksigen) yang biasa digunakan di rumah sakit lama – lama akan habis karena digunakan oleh penderita penyakit tertentu.